keSePIan,,,

sePi Bgd ,,,Bukan sepi karena q gk ad tmn or orang Yg sayang ma q,,tp q kesepian saat orang” yg q syang or yg sayang ma q gk ad disamping q saat q bth,,and orang yg q sayang gk smwnya mngerti perasaanq,,q gk tw tp yg pasty mLm Ini q bner: ngerasa kesepian bgd,,yG setia nemEnin q Hanya ALLAH and Internet yg mw nerima curhatnq ,,q gk tw Lg ngerasakan perasaan beriri hati ma orang yg mLm mInGgunya bersama orang Yg disayang ,,,ini mungkin salah satu bntk kesabran q untk ttp mensyukuri apa yg q rasakan skrng ,,q yakin ALLAH tw sglanya ,jd skrng q mw menikmati kesepian ku dgn syukur dan sllu berterima kasih ma ALLAH dgn sgla rahasia yg msh tak q ketahui ttg kesepian q saat ini ,,

No comment »

kuw benciiiiiiiiiiiiii bgt ma cwo play boyyyyyyy ….nyebelinnnn

denger ych yg ngerasa manusia berkelamin pria and suka gonta ganti cwe ..and parahnya tuh cwe yg dia pacrin dh di rasa ..TOLONG ych ….sadar gt lohhhhh !!! lo tuh punya ibu … and mw gk manusia yg berkelamin perempuan yg lo sayang di sakitinnn ?? mw gk ?? kl lo smw pada gk mw ..go to the HELL aj dch ?? cape tw gk ngelayanin rayuan gombal klian ..kuw sch dh cape dngerinya and mlh gk mw tw..cmn kasian di kalian aj dch ntar dpt efek dr perbutan klian slm nch,, kelak kl lu smw pada punya ank putri,,lu pasty bakal ngerasaainnya kuq ,,

and pLeaseeeeee.,,,jgn bermodalkan tampang doang lu bs memperamiankan cwe ,,and parahnya nch ych para playboykers jg dh bs bermodalkan AGAMA n sok berIMAN bwt pada bkin cwe yg dijadikan target permainan hatinya ..GILA gk tuh ..huhhhhhhh ..dasar KAMPUNGAN …

huhhh ..ya ALLAH lindungilah dr kuw dr lelaki yg berniat tdk baik pd dri kuw,,, buka lah pntu hati mereka akan keindahan wanita yg tidak hanya diliat dr fisik melainkan HATInya …AMIN YA ALLAH ..

NB: untk para playboykers…asl klian tw aj ych ?? manusia berklmn perempuan punya hati selembt kapas tw gk ?? kl klian tiup mudh terbang dh lambt tuk jatuhhh …(mksdnya ??? heheheh ..)

Comments (3) »

siapakah pria idaman kuw ??

huhhh ….siapa kah pria idaman kuw ?? ku masih menunggu mu ..wahai pria idaman..sekarang kuw tidak hanya menunggu mu melainkan berusaha tuk mencari mu , kuw gk tw bgmna caranya agar kau menyukai kuw seperti kuw menginginkan kamu …akan kah kau menerima kuw pa adanya ??

ad secercah harapan untk kuw memperbaiki hdp ini semenjak kuw memimpikan ttg drmu..(percya dch..) engkau sumber semngat hdpku dalam menjalani hdp .. hanya terkadang kuw tergoda dengan gangguan dr luar yg membuat kuw tidak mw berhrap lg ttg drmu, kuw butuh kamu pria idaman …adakah kau tau kuw da janji suci utnk mu …

janji suci kuw berupa kasih sayang dan tulus dari hati ku yg paling dalam,,

kuw ingin menyayangimu apa adanya,,setiap saat, setiap hari, setiap waktu, setiap detik, dan setiap ingtn akan drmu hadr dalam benak ku.,, SUMPAH dengan atas ijin sang maha penguasa ,,,ku ingin mengagumi dan menunggumu wahai pria idaman.,,kan kuw janjikan kuw takkan mengecewakan mu,, menjadikan kau satu tubh kuw ,juga nafaskuw,, (cieeeee…)

kuw elus pi2 mu (menandakan betapa kagumnya drkuw akan ciptaan tuhan yang ku sayangi ini) ku bisikkan kata2 mesra indah dan penyejuk hatimu..tak ternilai betapa banyak tatapan sayang dan cinta kuw pada drmu kelak wahai pria idaman ,,, ohhh Tuhan ..ijinkan kuw untk bertmu dngnnya,,, ijinkanlah kuw untk menyayanginya, memujanya, melindunginya dan mencintainya TANPA HARUS MELEBIHI CINTA DAN SAYANGKUW PADA MU WAHAI SANG MAHA PENGUASA…karena sumber cinta dan kasih sayang kuw itu ad dari MU..

dengerkan kuw wahai pria idaman kuw…cintai lah kuw…sayangilah kuw dengan bermodal cinta pada TUHANmu ..SUMPAH kuw tak buth yg lain selain itu ..

^_^

No comment »

capekkkk …membhas ttg cinta mulu …

lelahhh ….capek and bosannn ….

kenapa ?? ya iyalah Bosan …dh 4 bulan berturut2 nch q gy di landa gelombang cinta mellu ..mana gk kelar2 lg .blm kelar satu and nambah lg maslh baru ..biar dch ..ntar selsai sndr kuq maslhnya (yakin nch …?? ) hehehe…

gni ..q lg bner2 mw serius gk mkirn cinta2 mulu ..and mw serius mkrin kuliah and proses mencari jati dri …(cieeeeeh….bert amt bahasa lu) ,,tp banyak orang bilang proses pencarian jati dri bs dbntu dengan adnya peran perasaan cinta jg lohh …nahhh lo gmn nch padhl gk mw mkirn cinta2an .. tp gpp lah kl mank cinta bs membantu .,,yg ptng gk dibanting ma gelombang dahsyatnya cinta yg bkin q terkapar and tak berdaya .

sungguh tak ku sangka ,,,q bs merasa bs jadi lebih sehebat ini gr2 mengalami bnturan gr2 gelombang cinta dahsyat yg kmren2 gw alamin,,intinya tuh gw dapt hikmah yg bsr dch,, and skligus gw kletihan ngadepinnya ..(secara gw jadi drop saat gw di banting ma gelombang cinta yg datang mendadak yg bkin gw hmpr jatuh dan gk berdaya ,,,)

kebayang gk sch kl saat ini gw takut bgt kl gelombang cinta yg dahsyat tuh datang lg ..(ihhhh ..buang BALA …) tp inysaALLAH q yakin q bkl bs ngadapinnya dgn lapang dada ..

okay …gw mw make a wish dlo ..hihihi

gw harap ..gw kebal ma cinta yg gk bermanfaat bwt gw and gw lbh sensitive ma orang yg bner2 mencintai gw apa adnya ..AMIN YA ALLAH …

Comments (1) »

ini isi hati ku yg sbnrnya pada mu ..

Cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang hasrat mimpiku
Tuk bisa menyatakan sayang
Tuk bisa mengungkapkan semua
Pada dirimu

Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa kau terima semua
Tuk bisa kunyatakan rasa
Kucinta kamu

[Reff:]
Ketika bunga tak bermekar lagi
Dan dunia tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tak membakar hati ini
Kau kan tahu betapa aku mencintaimu
Betapa aku menginginkan kamu

Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa kau terima semua
Tuk bisa kunyatakan rasa
Kucinta kamu

No comment »

ya ALLAH .. ku Mohon

Setiap hari kumohon
Agar Kau sentiasa
Memberiku ketenangan dalam hati… kekuatan
Menempuh segala dugaan yang mencabar ini
Pasti punya ertinya
Engkau beriku harapan
Menjawab segala persoalan
Hadapi semua dengan tenang

Dengan merasa kesyukuran
Ku doa Kau selalu
Mengawasai gerak-geriku
Berkatilah ku penuh rahmat dari Mu

Oh Tuhan terangkan hati dalam sanubariku
Oh Tuhan ku berserah segalanya kepadamu
Agar jiwaku tenang dengan bimbingan Mu selalu

Ada kalanya ku merasa hidup ini seperti kaca
Jikalau tidak bersabar
Hancur berderailah akhirnya
Tabahkanlah hatiku
Melalui semua itu… Ooh…
Kuatkanlah
Cekalkanlah diriku

Curahkanlah nikmat Mu pada hidupku

No comment »

Menyempurnakan Ikhlas Kategori : Nasihat / Perbaikan Diri Minggu, 11 Maret 2007 @ 03:54:46

Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, jadi meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuan bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan saja tiba-tiba saja ibadahnya meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusyu tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah manikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarub kepada Allah sebagai bentuk ingkapan rasa syukur. Ketika berwudhu, misalnya ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat. Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Qur’an kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidak-ikhlasannya ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.

Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqomah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikan adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak ? Orang-orang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus. Berkaitan dengan niat ini seorang ulama ahli hikmah berkata, “Terkadang amal yang sedikit menjadi ba nyak oleh sebab niat, dan sebaliknya kadangkala amal yang banyak menjadi sedikit hasilnya, juga karena niat !”.
Pantaslah bila Yahya bin Abi Katsir menganjurkan kepada kita untuk senantiasa mempelajari dan mengetahui akan pentingnya niat ini dalam beramal, dia berkata, “Pelajarilah niat, karena ia lebih menyampaikan kepada tujuan ketimbang amal”.
Rasulullah SAW sendiri menasihatkan kepada kita, “Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya, dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan. Maka, barangsiapa yang niat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya.” (H.R Bukhari)

Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah. Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh (maaf !) pantat dikursi. Tidak usah heran bila suatu saat Allah memberi peringatan dengan sakit ambeien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang Allah ‘karuniakan’ kepada kita.
Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa Allah-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya. Kalau membeli sesuatu, diperhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena Allah. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena Allah. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada 3 jenis, 1) Kendaraan untuk Alah 2) Kendaraan untuk syetan 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya ? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk Allah. Tapi kalau sekedar untuk pamer, riya, ujub maka inilah kendaraan untuk syetan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misalkan kuda dipelihara, dikembang-biakan dipakai tanpa niat, maka inilah kendaraan untuk dirinya sendiri. Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena Allah. Karenanya bermohon saja kepada Allah, “Ya Allah saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah”. Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka bensinnya, tempat duduknya, shock breaker-nya dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya Allah. sebaliknya jika digunakan untuk maksiat, maka kita jugalah yang akan menanggung balasan dosanya.

Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkannya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat, misalkan, hati sudah bulat meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya Allah saya ingin tahajud jam 03.30 ya Allah”. Weker pun diputar, istri diberitahu. Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud. Sayangnya ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena masih kebagian pahalanya. Bagi yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh Allah, maka kalau ia sudah bertekad, Allah pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin Allah tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras tenaga. Allah Mahatahu apa yang akan terjadi, Allah juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya Allah-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah.
(Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar - Ketua Ponpes Daarut-Tauhiid - Bandung)

No comment »

cinta laki-laki biasa (true story)

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Aris an keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Comments (2) »

nikmat sesaat yang membawa petaka

Kenikmatan aktivitas seks, walau di luar
nikah, agaknya telah memabukkan banyak orang. Konon, ada seorang oknum
kapolsek yang tertangkap basah Berhubungan Intim Dengan Istri Anak Buahnya Sendiri. Konon pula, ada seorang artis yang bertelanjang dada di kover majalah luar negeri. Ah, tapi “pameran” ini “belum seberapa”.

Kalau diantara orang yang sudah menikah itu terjerumus dalam perselingkuhan,
diam-diam tanpa sepengetahuan suami/istri masing-masing, maka kaum
remaja yang pacaran (secara non-islami) lain lagi. Disamping diam-diam
tanpa sepengetahuan orangtua dan guru, mereka (yang non-islami itu)
bahkan terang-terangan memamerkan kemesraan di luar rumah. Mereka (dan kita?) seakan tak kenal malu, padahal memalukan.

Rupanya, minat kita terhadap “kenikmatan seksual” begitu besar.
Begitu besarnya perhatian kita terhadap “kenikmatan seks” itu,
sampai-sampai ada pula buku Kamasutra Arab. Kalau perhatian kita dimaksudkan untuk berjaga-jaga sih bagus. Tapi kalau untuk mengumbar syahwat? Alamaaak….

Memang, rangsangan syahwat itu
“manusiawi”. Siapa pun dapat mengalaminya. Tak terkecuali seorang ahli
ibadah yang bermukim di kota suci Makkah.

Az-Zubair bin Bakkar telah menceritakan
bahwa ‘Abdur Rahman bin Abu ‘Ammar bermukim di Makkah dan dia termasuk
salah seorang ahli ibadah, bahkan karena ibadahnya itu ia dijuluki
sebagai pendeta.

Namun suatu hari ia bersua dengan seorang [gadis] yang sedang
bernyanyi, ia tertegun mendengar suaranya yang begitu merdu, lalu ia
mendengarkannya, namun pelayan gadis itu melihatnya. Si pelayan
mempersilakannya untuk masuk menemui tuannya, jangan mendengarkannya
dari luar.

Akan tetapi, ‘Abdur Rahman menolak, dan si pelayan hanya bisa
mengatakan: “Kalau begitu, terserah Tuan. Silakan mendengarkan
nyanyiannya tetapi tanpa melihatnya.”

‘Abdur Rahman mendengarkannya dari luar, lama-kelamaan dia merasa
kagum. Melihat gelagat itu, si pelayan mengatakan kepadanya: “Maukah
Tuan bila kuatur agar dia dapat bersua dengan Tuan?”

Pada mulanya ‘Abdur Rahman agak menolak, namun setelah terus didesak
akhirnya setuju. Ketika ‘Abdur Rahman bersua dengannya, ia langsung
jatuh cinta kepada sang gadis, begitu pula sang gadis menyambut
cintanya.

Lama-kelamaan seluruh penduduk Makkah mengetahui percintaannya.
Kemudian pada suatu hari sang gadis ingin berterus-terang kepadanya
seraya mengatakan: “Demi Allah, aku cinta kepadamu.”

‘Abdur Rahman menjawab: “Aku pun, demi Allah, cinta kepadamu.”

Sang gadis berkata: “Demi Allah, aku ingin sekali meletakkan mulutku ke mulutmu berpagutan dalam ciuman.”

‘Abdur Rahman menjawab: “Demi Allah, aku pun suka itu.”

Sang gadis berkata: “Lalu mengapa engkau tidak melakukannya? Bukankah tempat ini sepi?”
‘Abdur Rahman menjawab: “Sungguh celaka kamu! Bukankah Allah telah berfirman, ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.’
[QS. Az-Zukhruf (43): 67] Dan aku, demi Allah, tidak suka bila hubungan
[percintaan] antara aku dan kamu di dunia ini kelak [berubah] menjadi
permusuhan pada hari Kiamat nanti!”

Kemudian ‘Abdur Rahman bangkit pergi meninggalkan sang gadis,
sedangkan air matanya bercucuran karena cintanya yang sangat [mendalam]
kepada sang gadis. (Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh
Cinta (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 615-617.)

Lantas, hikmah apa yang bisa kita petik dari situ? Tentu ada banyak,
bukan? Satu diantaranya adalah bahwa kenikmatan duniawi, termasuk
kenikmatan seksual, itu bukanlah kenikmatan sejati. Wajarlah bila ‘Abdur Rahman memilih bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bagaimana dengan Anda?

No comment »

jurus mencari jodoh

Jurus-Jurus Mencari Jodoh I
by: Alfred Alinazar, 30 April 2004

Jurus pertama: “Anda mungkin saja bisa mencari ikan dengan
memancing di sungai, kolam ikan, danau, ataupun bak mandi. Namun jika
anda ingin lebih mudah mendapat ikan, pergilah ke kolam pemancingan yg
ikan2nya sedang kelaparan
.”

Kedengerannya jurus di atas itu simple banget, tapi seringkali orang
tak sadar bahwa sebenarnya mereka sedang memancing di bak mandi dan
berharap mendapat ikan. Begitu banyak orang yg mengeluh sulitnya
mendapatkan jodoh, hanya karena masalah simple, mereka tidak berada di
tempat pria/wanita idaman berada.

Lingkungan adalah sebuah faktor yg sangat berpengaruh atas sulit
atau mudahnya seseorang mencari jodoh. Seringkali kita tak sadar bahwa
kita telah berada pada lingkungan yg tidak mendukung untuk mendapatkan
jodoh. Namun karena kita tak menyadari itu, maka kita tidak pernah
berpikir untuk mencari lingkungan baru yg akan memudahkan kita mencari
jodoh.

Contoh saja: mahasiswa yg kuliah di fakultas teknik.

Pada kebanyakan jurusan di fakultas teknik, jumlah mahasiswi sangat
sedikit sekali dibandingkan dengan mahasiswa. Oleh karena itu, para
bujang lapuk yg sekolah di fakultas teknik, kebanyakan sulit sekali
mencari pasangan, wong temennya laki2 semua. Cilakanya, setelah lulus
si alumni fakultas teknik ini menjadi kuli (seperti saya), sering
bertugas di tengah laut, dan ketemunya batangan lagi batangan lagi.
Akibatnya, peluang untuk bertemu si pujaan hati sangatlah kecil.

Saya mempunyai seorang teman yg cukup ganteng dan diidolai banyak
wanita. Si teman ini pernah mengeluh seperti ini,”Susah juga ya nyari
jodoh. Yg naksir gue sih banyak, tapi nggak ada yg cocok sama kriteria
gue. Begitu ada yg cocok sama kriteria gue, eh dianya yg nggak mau sama
gue. Jadinya bagaimana dong ?” Ada lagi teman perempuanku yg lagi
ditaksir cowok bule bertanya padaku,”Bang, aku ditaksir cowok bule. Dia
orangnya perhatian, kaya, pinter, siap menikah dan pokoknya ndak ada
kurangnya deh. Anehnya hati gue nggak sreg aja tuk menerima lamaran
dia. Sementara cowok2 yg lain nggak ada yg memenuhi kriteria gue. Gue
mesti gimana dong Bang ?”

Kedua temanku itu mengalami masalah itu karena mereka berada pada
“tempat” yg salah. Mereka berada pada lingkungan di mana pasangan
pujaan yg memenuhi kriteria mereka tak banyak ada di situ.

Coba deh kalau si cowok itu berada di tempat yg banyak wanita yg
sesuai dengan kriterianya. Peluang untuk mendapatkan satu dari mereka
tentunya lebih mudah. Masak sih satu aja dari yg banyak itu ndak ada yg
gayung bersambut ?

Demikian juga dengan si cewek. Andai dia berada pada lingkungan yg
banyak laki2 kritrianya, maka dia akan punya banyak pilihan. Masak sih
satu dari banyak itu ndak ada yg mengena di hati ? )

Untuk menerapkan “jurus cari jodoh I” ini, langkah2 yg harus dilakukan adalah:
- Menentukan kriteria pasangan yg kita inginkan.
- memikirkan kira2 di mana orang2 seperti ini banyak ditemukan.
- memasuki lingkungan itu dan mencari di sana.

Contoh praktis adalah pengalamanku dulu sewaktu mencari cinta.
Sewaktu kuliah dulu kebanyakan temanku adalah laki2, karena aku kuliah
di fakultas teknik, yg disebut juga dengan fakultas para hombreng.
Setelah bekerja, di lingkungan kerja kebetulan ndak ada yg memenuhi
kriteria, dan orang2 yg ada di kantor juga tak berubah banyak, sehingga
temen kantor ya itu2 aja. Tentu saja ada beberapa tambahan kalau ada yg
dipecat dan kemudian hired orang baru. Tapi tetep aja penambahan itu
nggak signifikan. Jadi biarpun aku ganteng, pintar dan banyak yg
naksir, tapi tetep aja sulit nyarinya, wong aku nyari ikan black ghost
di dalam bak mandi, mana bisa ketemu ? (note: black ghost ini adalah
ikan yg sangat cantik, harganya mahal, berasal dari sungai amazone)

Menyadari kondisi lingkungan ini, aku mulai menyadari bahwa aku
butuh expansi. Aku mencari seorang wanita yg pintar, cantik dan
berwawasan luas. Dengan kriteria itu, akhirnya aku masuk milis
psikologi, milis alumni dan berbagai milis lainnya yg aku perkirakan
banyak wanita seperti itu berada. Aku juga sempat ikutan kurus bahasa
perancis di Salemba (di depan UI) dengan alasan yg sama. Selain senang
belajar bahasa, aku memperkirakan ada banyak mahasiswi UI yg tentunya
pintar2 (dan mungkin juga cantik) akan ikutan kursus tersebut. P

Walhasil, faktor lingkungan ini memang banyak membantuku.

Di kursus perancis perkiraanku salah. Di situ memang ada yg memenuhi
kriteria, tapi sudah not available. Dan isi kelas perancis ndak akan
berubah sampai naik kelas. Jadi aku harus menunggu naik kelas dulu baru
dapat teman baru. Dan aku memutuskan tempat ini bukan tempat yg cocok.

Di milis alumni, ceritanya berbeda. Anggotanya berubah terus dan
sebagian besar lulusan UGM, jadi kriteria pintar sudah pada lewat deh,
cuma tinggal kriteria2 lainnya. Walhasil ada beberapa yg dilihat2 trus
ndak jadi dilanjutin, ada yg dijalanin sedikit terus nggak cocok, ada
yg dijalanin cukup lama dan gagal juga, dan berbagai pengalaman
lainnya. Namun bagaimanapun, aku tak pernah lagi kekurangan stock, ndak
seperti sewaktu aku “berada di bak mandi” dulu. D
Akhirnya aku pun menemukan yg terbaik, sangat sesuai dengan kriteriaku,
lebih dari yg pernah ada, dan sekarang telah menjadi istriku. D

Demikanlah kiranya tayanganku tentang jurus mencari jodoh nombor I ini, yg intinya adalah: “Tentukan kriteria wanita/pria pilihan anda, dan masukilah lingkungan dimana mereka banyak ditemukan keberadaannya.”

No comment »